Hari Rabu (28/01/2026) menjadi jadwal para mahasiswa semester lima untuk menampilkan eksekusi proyek akhir mikrokontroler mereka. Mata kuliah mikrokontroler merupakan mata kuliah wajib untuk seluruh peminatan pada mahasiswa Teknik Elektro semester lima. Sebagai nilai UAS, mahasiswa dituntut untuk membuat sebuah proyek lengkap dengan software dan hardware-nya. Demo proyek ini dilakukan pada lab TC 3.2A mulai pukul 13.00 hingga 17.00 bersama Bapak Hendi Wicaksono Agung Darminto, S.T., M.T., Ph.D., CIQaR., dosen mata kuliah Mikrokontroler. “Proyek menjadi nilai akhir untuk mempresentasikan hasil kerja mahasiswa yang telah mengintegrasikan semua materi mikrokontroler. Setelah itu, proyek-proyek ini berbasis dengan aplikasi sehari-hari,” jelas Bapak Hendi.

Mengutip ibm.com, mikrokontroler sendiri merupakan computer kecil pada satu chip yang berisi CPU, memori, hingga antarmuka input/output. Oleh karena kekompleksannya, untuk menguasai mikrokontroler, mahasiswa perlu menyelesaikan mata kuliah lainnya di bawah Mikrokontroler. Mata kuliah tersebut seperti Algoritma Pemrograman, Electronic Digital, dan Mikroprosesor. Apabila mahasiswa tidak lulus dalam ketiga mata kuliah tersebut, mahasiswa akan kesusahan menerima materi Mikrokontroler. “Dalam mata kuliah ini, kita diajarkan menggunakan arduino, ESP32, IoT, sensor, kalibrasi sensor dan menghubungkan seluruh komponen menjadi alat yang utuh,” Krishna Kuswanto, mahasiswa semester lima menyampaikan. Pada Teknik Elektro Ubaya, mata kuliah ini disampaikan menggunakan bahasa Inggris. Alhasil, proyek dipresentasikan dengan bahasa Inggris pula.
Terdapat beberapa hal yang harus diselesaikan sebelum presentasi ini. Penilaiannya mencakup keberhasilan proyek dan kelengkapan laporan, presentasi hingga prototype. Pertama-tama, mahasiswa harus menyiapkan desain perangkat lunak atau UI/UX menggunakan Flutter. Proses ini memerlukan kemahiran programming. Selanjutnya, proses pembuatan dilengkapi oleh perangkat keras, mulai dari merangkai PCB dan arduino hingga desain 3D. Untuk mencetak desain 3D, Universitas Surabaya telah menyediakan printer 3D dalam lab Teknik Elektro. Selain hardware dan software, mahasiswa perlu menambahkan library filter untuk mempermudah proses pengerjaannya.
Demo proyek hari itu dihadiri oleh 7 kelompok mahasiswa. Namun, karena satu kelompok sudah sempat memenangkan lomba dengan proyeknya, kelompok tersebut tidak perlu mengikuti presentasi lagi. Presentasi dibuka oleh kelompok Felicia Hartono, Krishna Kuswanto, dan Edward Alfons. Mereka mempersembahkan prototype “Jaga-Lari”, sebuah alat yang dapat melacak pergerakan atlet marathon dan menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. IoT ini memberikan sistem peringatan dini ketika terjadi kolaps pada pelari. Lebih lanjut, aplikasinya dilengkapi oleh pengukur kadar oksigen dan pelacak lokasi. Presentasi ditutup oleh demonstrasi alat oleh Felicia yang berlagak seolah seorang pelari.

Proyek kedua yang ditampilkan oleh Novelin Gratia dan Adinda Seoulita yaitu IoT Patient Safety & Activity Monitor. Alat ini dapat diimplementasikan pada tempat tidur pasien yang rentan terjatuh. Selain mengukur suhu tubuh dan denyut nadi, keamanan pasien dijaga dengan memberikan tanda berupa alarm apabila pasien akan terjatuh dari kasur. Alarm hanya dapat dimatikan menggunakan kartu yang dimiliki oleh keluarga bersangkutan. Masih berkaitan dengan keselamatan pasien, kelompok lain juga membuat sebuah IoT untuk inkubator bayi yang dapat mencatat suhu dan denyut nadi bayi secara real-time.

Prototype selanjutnya dipresentasikan oleh Onggo dan Filipus yang membawakan inovasi Guardian Jacket. Jaket dilengkapi oleh MPU6050 untuk mendeteksi apabila pengguna jatuh serta mengalami benturan. Jaket juga dilengkapi oleh kamera sebagai pemantauan langsung pada korban. Onggo secara antusias mempresentasikan jaket ini bahkan berpura-pura jatuh untuk membuktikan bahwa alatnya bekerja. Proyek lainnya seperti “Cyclocare” dapat memberikan laporan langsung atas keadaan fisik serta lokasi pesepeda. Proyek ini memiliki kesamaan dengan “Jaga-Lari”, yaitu untuk memonitor keadaan atlet yang sedang berolahraga.
Seperti pepatah “save the best for last”, presentasi proyek ditutup dengan kelompok yang tak biasa. Kelompok tersebut berisi dua orang, Djody El Sharon dan Akhdan Aulia. Mereka mempresentasikan rumah pintar untuk ternak ayam. Berbeda dengan kelompok lain yang memiliki prototype sederhana, kelompok ini memutuskan untuk membuat sebuah proyek yang berukuran besar. Rumah ayam ini memiliki berbagai fitur, mulai dari deteksi gas, kipas dan lampu otomatis, hingga pakan yang keluar secara terjadwal. Ketika sensor mendeteksi gas amonia (NH3) dari kotoran ayam, kipas akan otomatis menyala untuk memutar udara dalam ruangan dengan udara luar. Saat malam tiba dan udara menjadi dingin, lampu berwarna kuning akan menyala dan menghangatkan ayam. Proyek besar ini menarik perhatian mahasiswa dan dosen lain.

Usainya demo ini menandakan selesainya rangkaian UAS mahasiswa semester lima. “Mikrokontroler ini anggapannya yang terakhir, yang lainnya sudah selesai di minggu lalu,” ungkap para mahasiswa. Pengerjaan proyek yang memakan waktu akhirnya resmi ditutup oleh presentasi ini. “Lega sih soalnya udah terakhir. Tapi karena ada problem lagi, ya, pusing sedikit,” ujar Akhdan ketika menyadari lubang USB-nya patah. Beruntungnya, masalah tak mematahkan semangat kelompok tersebut. Akhirnya, seluruh demo proyek tetap berjalan dengan baik. Meski tidak seluruhnya berjalan mulus, para mahasiswa telah mengusahakan yang terbaik dari mereka.

Rata-rata eksekusi proyek akhir mikrokontroler memiliki satu kesamaan –mewujudkan teknologi yang human-centered. Pembelajaran ini sangat penting di era modern ketika teknologi tidak hanya dituntut dalam perkembangan industri, melainkan untuk memberikan dampak positif terhadap tiap manusia. Dalam Teknik Elektro Ubaya, keterampilan menggunakan IoT demi kepentingan manusia sungguh dilatih. Bahkan, mata kuliah ini menjadi mata kuliah wajib untuk ketiga peminatan Teknik Elektro; Intelligent Robotics, Biomedical Engineering, dan Renewable Energy. Tenaga pendidik Elektro Ubaya percaya, kemampuan mengembangkan teknologi human-centered merupakan kemampuan dasar yang wajib dikuasai oleh tiap mahasiswa Teknik. Teknik Elektro Ubaya dapat memberikan pilihan pendidikan yang terbaik bagi mahasiswa. Pintu kami selalu terbuka atas inovasi baru dan perkembangan zaman. Oleh karena itu, tidak ada kata ragu untuk memilih Prodi Elektro Universitas Surabaya. Daftarkan diri melalui website daftar.ubaya.ac.id dan jadilah bagian dari keluarga Teknik Elektro.