Pernahkah kamu menengok Teknik Elektro dari kacamata si elektro? Prodi ini menyimpan berbagai “label”, mulai dari si jago listrik, robotika, hingga Prodi yang mudah di awal saja. Bahkan, tak jarang kita mendengar “anak Teknik Elektro itu jenius tapi red flag”. Belum tentu semua pernyataan tersebut benar lho, guys…Elektro menyenangkan dan menantang kok! Teknik Elektro punya banyak cerita yang tidak diketahui publik, mulai dari pembelajaran, kelompok studi, hingga kehidupan mahasiswanya sendiri. Yuk, lihat lebih dalam kisah ini dari kacamata si Teknik Elektro (TE) semester I di Universitas Surabaya.

Eittss… Sebelum berjalan bersama kisah satu semester ini, tentu kita harus mengenal bagian luarnya terlebih dahulu, dong! Maka, ada baiknya kita mengetahui latar belakang Prodi Teknik Elektro di UBAYA. Mengutip dari laman te.ubaya.ac.id, program studi ini telah berdiri sejak 11 Oktober 1986 dan mendapatkan akreditasi “Unggul” pada tahun 2024. Teknik Elektro UBAYA sendiri memiliki tiga peminatan yaitu Intelligent Robotics (IR), Biomedical Engineering (BE) dan Renewable Energy (RE). Peminatan yang paling menarik dan bikin kepo adalah Renewable Energy (RE).
Prodi ini tidak hidup hanya dari sejarah maupun peminatannya, melainkan karena berbagai kepribadian yang ada di dalamnya. Kehidupan mahasiswa Teknik Elektro Angkatan 2025 diawali dengan satu semester bersama mata kuliah Fisika Dasar, Kalkulus I, Kimia, dan Pengantar Teknik Elektro (PTE). Fyi guys, mata kuliah ini bisa berubah-ubah di tiap angkatannya. Denger-denger, angkatan tahun 2026 nantinya tidak bertemu mata kuliah Kalkulus I dan Kimia lagi, melainkan matematika yang dibagi menjadi beberapa bagian saja lho! Meski harus menghadapi beragam mata kuliah, kami dapat melewati seluruhnya dengan baik berkat dukungan dosen-dosen, laboran, karyawan, serta teman-teman yang menyenangkan.
Salah satu dosen yang ditemui pada semester pertama Prodi ini adalah Prof. Elieser Tarigan, S.Si., M.Eng., Ph.D. Beliau merupakan dosen dari mata kuliah Fisika Dasar yang sering diingat oleh mahasiswanya sebagai dosen yang lucu, sabar dan ceria. Pelajaran Fisika yang kerap menjadi beban dapat diubah menjadi pelajaran yang menyenangkan oleh Prof. “Elegan” satu ini. Satu hal yang membuat kami selalu mengingat beliau adalah pakaiannya yang seringkali bernuansa merah. Atasan berkerah tersebut merupakan seragam yang didapatkan Profesor Elieser dari UBAYA. “Di waktu rekan-rekan saya hanya dapat satu baju, saya selalu dapat dua. Akhirnya satu rak saya penuh baju merah”, ujar beliau suatu kali saat mengajar. Alhasil, beliau kerap kali mengajar menggunakan pakaian tersebut. “Daripada tidak dipakai”, ungkap Profesor Elieser.

Tak jauh berbeda dengan Profesor Elieser, Ibu Dosen Ir. Veronica Indrawati, M.T., atau yang sering dikenal Ibu Vero menjadi wajah yang familiar dalam jajaran dosen Teknik Elektro pada semester pertama. Beliau merupakan dosen mata kuliah Kalkulus I. Dalam mengajar, beliau selalu menyiapkan materi yang telah tertata rapi pada tiap pertemuannya. Apabila terdapat mahasiswa yang kesulitan, tanpa ragu beliau akan menjelaskan ulang materi tersebut. Sebelum kuis menerjang, beliau juga selalu mengirimkan materi-materi dan soal kuis dari tahun-tahun yang sudah berlalu.
Dua dosen lain yang kami temui pada semester pertama adalah Ibu Rafina Destiarti Ainul, S.ST., M.T. dan Bapak Djuwari, S.T., Ph.D., yang merupakan dosen mata kuliah Kimia serta PTE. Keduanya pun memiliki gaya mengajar unik, yang membuat kehidupan mahasiswa Teknik Elektro semakin berwarna. Ibu Rafina selalu mengajar secara detail dan perlahan. Sedangkan, di sisi yang berkebalikan, Pak Djuwari kerap mengajar dengan kecepatan kilat serta mengutamakan cara berpikir logika. Dalam kegiatan perkuliahan, mahasiswa TE juga ditemani oleh kedua laboran yang ramah dan suka bercanda. Mereka akrab dikenal “Mbak Esti” dan “Mbak Tere”.

Meski dibalut dengan berbagai karakter yang berbeda, kami pun dapat mengikuti segala huru-hara perkuliahan ini. Dengan banyaknya pertemuan, semakin beragam pula kisah-kisah baru. Hal ini membuat suasana perkuliahan menjadi hangat dan para mahasiswa pun semakin akrab satu sama lain. Menjadi mahasiswa Teknik Elektro tentu mengajarkan banyak hal, mulai dari cara berpikir kritis, logis, dan setumpuk perhitungan mengenai rangkaian listrik. Dan yang terpenting, Prodi ini mengajarkan untuk bertumbuh bersama layaknya sebuah keluarga. Kami belajar, mengeluh, maupun bercanda bersama.
Dalam keluarga besar ini, kami memiliki banyak ‘warna’, yang ditunjukkan dari berbagai macam perbedaan. Salah satu perbedaan yang paling terlihat dari kami adalah uniknya hobi para mahasiswa. Siapa bilang bahwa anak Teknik Elektro hanya menyukai robotika maupun listrik? Yup, kami sama seperti anak kuliahan pada umumnya, guys. Ada yang lihai sekali bermain alat musik seperti gitar, keyboard, drum, hingga piano dengan berbagai macam genre. Ada pula yang memiliki hobi mengumpulkan baju cosplay, figure, strap phone, keychain hingga poster berbau anime. E-eh, bukan berarti kami bau bawang ya, hihihi… Yang paling berbeda dari seluruh keunikan adalah mereka yang memelihara kadal dan mengumpulkan kartu Pokemon.

Beragam keunikan dan suara mahasiswa tentu membutuhkan ruang untuk menjadi satu kesatuan. Di titik ini, Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) mengambil peran. KSM merupakan bagian tak terpisahkan dari setiap Prodi. “Tujuan KSM Teknik Elektro adalah menyalurkan aspirasi mahasiswa dengan Prodi teknik yang lainnya dan menjadi wadah dalam penyelenggaraan kegiatan Teknik Elektro”, jelas Samuel Adityaputra Wardoyo, Ketua KSM Teknik Elektro periode 2025/2026. Kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh KSM TE seperti E2G, ODIOC, hingga kuliah tamu telah berhasil mempersatukan mahasiswa Teknik Elektro. Bahkan, KSM TE menjadi fondasi kuat adanya keluarga Teknik Elektro. “Seiring berjalannya waktu, kita juga semakin terbuka satu sama lain dan akhirnya menjadi seperti keluarga”, ujar Samuel. Harapannya, KSM membuka koridor minat, melatih soft skill, serta memperkaya pengetahuan para mahasiswa.

Kini, lengkap sudah cerita kami para mahasiswa Teknik Elektro. Kami berhasil membuktikan dan melihat dari kacamata si elektro bahwa prodi ini menyenangkan. Bergabung dalam keluarga ini membuat kami semakin siap menghadapi kenyataan hidup yang mungkin lebih berat, asek… “Proses pembelajaran TE seperti hiburan yang bermakna. Saya merasa tidak salah pilih Prodi”, ujar Marvell Nicholla, mahasiswa TE Angkatan 2025. Pendapat serupa juga diutarakan oleh Fernando Arnold, mahasiswa TE Angkatan 2024. “Lingkungannya asik dan Prodinya recommended untuk mencari pekerjaan”. Memasuki dunia elektro mungkin tidak ringan awalnya. Namun, dengan lingkungan yang saling mendukung, setiap tantangan terasa lebih mungkin untuk dilewati. Seperti kata Fernando, “Tidak ada anak yang pintar, adanya anak yang malas dan rajin”. Nah, semoga artikel ini dapat meyakinkan kalian yang masih dibayang-bayang oleh keraguan untuk bergabung dalam keluarga Teknik Elektro ya… Kakak-kakak disini tidak menggigit kokk. Jadi, sesuai judul artikel ini, siapkah kalian menatap dari kacamata si elektro? Ditunggu kehadirannya bersama kami ya!!