Perkembangan teknologi digital saat ini membuat internet menjadi kebutuhan yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bagi mahasiswa, internet bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga penunjang utama pembelajaran, diskusi, dan pencarian referensi. Namun, kenyataannya masih banyak orang yang harus berpikir dua kali lipat ketika membayar biaya langganan internet rumah setiap bulan. Dari pengalaman pribadi dan obrolan dengan teman-teman, biaya ratusan ribu rupiah sering kali terasa cukup membebani, terutama bagi mahasiswa yang tinggal di kos atau keluarga dengan pengeluaran terbatas. Saatnya TEUSIAN Learning Beyond Classroom.

Dari kondisi atau permasalahan tersebut, kegiatan TEUSIAN Learning Beyond Classroom (TeLeBeCe) menjadi ruang yang menarik untuk membahas persoalan nyata yang dekat dengan kehidupan mahasiswa yang dibawakan oleh Bapak Djuwari, Ph.D., sebagai pembawa materi di kegiatan tersebut. TeLeBeCe tidak sekadar menawarkan materi teoritis, tetapi juga mengajak peserta memahami isu aktual yang sedang berkembang di masyarakat. Tema “Menyongsong Internet Murah Berdampak” terasa relevan karena menyentuh kebutuhan dasar banyak orang di era digital. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk melihat internet bukan hanya sebagai layanan komersial, tetapi sebagai infrastruktur penting bagi kemajuan pendidikan dan ekonomi.

Kehadiran beliau yang kompeten memberikan nilai tambah tersendiri karena pembahasan tidak berhenti pada klaim atau janji teknologi, tetapi juga menyentuh aspek teknis dan kebijakan. Fokus utama seminar adalah konsep Internet Rakyat berbasis teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA). FWA sendiri merupakan koneksi nirkabel yang menyediakan akses broadband ke lokasi tertentu seperti rumah atau gedung perkantoran. Bagi sebagian peserta, istilah ini mungkin terdengar teknis, namun penjelasan yang disampaikan membuat konsep tersebut lebih mudah dipahami.

Teknologi 5G FWA menawarkan pendekatan berbeda dibandingkan dengan jaringan internet kabel konvensional. Alih-alih menarik fiber optik langsung ke rumah pelanggan, koneksi dilakukan secara nirkabel dari base station ke perangkat penerima. Menurut penjelasan narasumber, metode ini dapat memangkas biaya pembangunan infrastruktur secara signifikan. Inilah yang kemudian memunculkan kemungkinan layanan internet dengan harga jauh lebih murah, bahkan mendekati seratus ribu rupiah per bulan. Namun, di sinilah peserta diajak untuk tidak langsung menerima klaim tersebut tanpa berpikir kritis.
Beliau juga sempat membahas mengenai konsep “unlimited”. Dalam seminar ini, dijelaskan bahwa istilah unlimited tidak selalu berarti tanpa batas sama sekali. Biasanya terdapat kebijakan pemakaian wajar atau penurunan kecepatan pada kondisi tertentu. Penjelasan ini terasa penting karena sering kali masyarakat hanya melihat harga murah tanpa memahami detail layanan yang diterima. Dengan memahami hal ini, pengguna dapat lebih bijak dalam memilih dan menggunakan layanan internet sesuai kebutuhan.
Selain harga dan kuota, seminar ini juga membahas alasan teknis mengapa layanan 5G FWA bisa lebih terjangkau. Efisiensi penggunaan spektrum dan minimnya kebutuhan kabel menjadi faktor utama. Namun, narasumber juga menekankan adanya keterbatasan, seperti wilayah cakupan yang belum merata dan kebutuhan perangkat khusus di sisi pengguna. Dari sini terlihat bahwa teknologi selalu membawa peluang sekaligus tantangan. Pemahaman semacam ini jarang diperoleh jika hanya membaca iklan atau promosi layanan internet.

TeLeBeCe menunjukkan peran penting perguruan tinggi dalam menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa dari berbagai program studi dapat melihat keterkaitan antara Intelligent Robotics (IR), Biomedical Engineering (BE), dan Renewable Energy (RE). Diskusi lintas disiplin seperti ini membantu mahasiswa memahami bahwa solusi teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Semuanya saling terhubung dan membutuhkan kolaborasi.
TeLeBeCe (TEUSIAN Learning Beyond Classroom) bukan sekadar seminar tentang teknologi internet. Kegiatan ini menjadi ajang refleksi bersama mengenai akses digital yang adil dan berkelanjutan. Internet murah berbasis 5G FWA menawarkan harapan, tetapi juga menuntut pemahaman yang kritis dan realistis. Melalui diskusi seperti ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga individu yang mampu memahami, menilai, dan berkontribusi pada masa depan konektivitas digital di Indonesia.
Daftarkan diri Anda melalui website ini! Kami tunggu kedatangan Anda di Teknik Elektro UBAYA ya! Liputan Kuliah Tamu dengan topik yang up-to-date dapat dibaca pada artikel lainnya.
Sampai jumpa di Teknik Elektro UBAYA!