Di Balik Industri FMCG teusian 06/04/2026

Di Balik Industri FMCG

Terdapat banyak proses di balik industri FMCG. Bayangkan, ketika masuk dalam minimarket, tak jarang kita akan mengambil makanan kemasan. Rasanya konsisten, kemasannya rapi dan hampir tidak dapat dibedakan dengan kemasan-kemasan serupa dari merk dan jenis yang sama. Menyenangkannya, kemasan-kemasan ini selalu tersedia kapanpun. Kenyamanan ini dapat dihasilkan dari perkembangan industri yang dapat memproduksi ribuan hingga jutaan produk dalam hitungan detik dengan kualitas yang nyaris identik. Siapa yang berperan di balik itu semua?

Foto bersama peserta kuliah tamu Di Balik Industri FMCG di Ruang Serbaguna Pascasarjana FBE Ubaya

Bukan sekadar mesin, namun kehadiran sistem otomasi dengan tingkat presisi yang tinggilah yang menjadi kunci dari industri ini. Di sinilah kita masuk di era industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG), industri yang menghasilkan produk dengan perputaran cepat, terjangkau, dan konsumsi yang tinggi di masyarakat (Dealls.com, 2025). Terdapat banyak ilmu pengetahuan yang ikut melancarkan industri FMCG, salah satunya Teknik Elektro. Bahkan, peranan mereka dapat dikatakan otak dari sistem otomasi ini. Mulai dari PLC, sensor, hingga aktuator merupakan ranah penting yang dikuasai oleh para lulusan Teknik Elektro. Oleh karena itu, pemahaman praktis dalam ranah industri merupakan salah satu kemampuan penting untuk dipelajari oleh mahasiswa Teknik Elektro.

Melihat urgensi ini, KSM Prodi Teknik Elektro Ubaya mengadakan kuliah tamu dengan tema “Perkembangan Otomasi Industri dan Aplikasinya pada Industri FMCG”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin (09/03/2026) bertempat di Ruang Serbaguna Pascasarjana FBE Universitas Surabaya dengan narasumber Bapak Bryan Hugo, S.T. Beliau merupakan salah satu alumni Teknik Elektro Ubaya yang kini bekerja di PT. Djarum sebagai senior electrician.

Bryan Hugo memaparkan materi Di Balik Industri FMCG tentang otomasi industri di depan mahasiswa Teknik Elektro

Kuliah Tamu Di Balik Industri FMCG

Rangkaian kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB ini diawali dengan menyanyikan jingle Teus—bentuk kebersamaan mahasiswa Teknik Elektro. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Agung Payitno, S.T., M.Eng., Ph.D. selaku perwakilan Ketua Program Studi Teknik Elektro dan Rein Francis Xaverius sebagai ketua pelaksana kegiatan. Setelah rangkaian acara pembuka, kini acara berlanjut ke sesi utama yang paling dinantikan, yaitu pemaparan materi oleh Bapak Bryan Hugo S.T. Suasana mulai hening dan seluruh mata tertuju pada podium tempat Bapak Bryan berdiri.

Bapak Bryan membuka materi dengan perkenalan singkat mengenai PT. Djarum. Terdapat berbagai variasi ekosistem bisnis yang dibawahi oleh PT. Djarum, mulai dari perbankan dan E-commerce seperti BCA serta Blibli hingga F&B yang mudah ditemukan di minimarket seperti Savoria (5 Days), Gadjah, Sariwangi dan Milk Life. Tak sekadar memberikan perkenalan, beliau menawarkan dukungan untuk mahasiswa yang berminat berkarir di PT. Djarum. “Bukan orang dalam ya, tapi bantu mengarahkan. Kalaupun memang tidak diterima di PT Djarum, bisa juga dilempar ke Perusahaan manufaktur lainnya,” jelas Bapak Bryan, mengingat tingginya kebutuhan pekerja di bidang teknikal sedangkan ketersediaan yang terbatas. Bahkan, Ia berpesan bahwa para mahasiswa harus bersyukur memiliki kesempatan untuk belajar di prodi ini. “Ilmu elektro itu mahal, banyak dibutuhkan di pasaran namun tidak semua orang bisa melakukannya”.

Bryan Hugo menyampaikan materi secara interaktif dalam kuliah tamu Di Balik Industri FMCG

Materi dilanjutkan dengan penekanan soft skills dan budaya kerja (5R) yang harus dibiasakan sejak dini. Budaya ini merupakan adaptasi dari budaya Jepang yang berbunyi “Seiri (Ringkas), Seiton (Rapi), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat), dan Shitsuke (Rajin)”. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini ternyata memiliki dampak yang besar terhadap kualitas pekerjaan, bukan sekadar untuk keindahan melainkan untuk mempercepat alur kerja. Selain 5R, soft skill utama yang wajib dilestarikan adalah awas terhadap keselamatan kerja. Hal yang sering disepelekan ini justru merupakan hal yang terpenting. Ketika bekerja, kita tidak dapat menebak apa yang akan terjadi. Oleh karena itu, tiap pekerja harus selalu berjaga-jaga.

Seorang mahasiswa Teknik Elektro menjawab pertanyaan narasumber dengan mikrofon saat kuliah tamu

Langkah paling sederhana adalah menggunakan APD sebelum melakukan pengerjaan teknis. Karena electrician berhubungan langsung dengan mesin, electrician harus selalu ingat untuk melakukan grounding. Tanpa grounding yang baik, perangkat elektronik akan cepat rusak dan operator mudah tersetrum. Sebagai tahap menjaga keselamatan, pengecekan short circuit wajib dilakukan sebelum sistem dijalankan. Pastikan tidak ada kabel yang menyatu antara positif dan negatif. Terakhir, pekerja harus mengecek phase rotation pada listrik 3 fasa. Bapak Bryan menjelaskan, “secara elektrikal memang tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah instalasi mekaniknya. Ketika arah terbalik, mesin bisa rusak bahkan hancur.”

Sembari memaparkan materi, Bapak Bryan juga menjaga agar penyampaiannya tetap komunikatif. Beliau beberapa kali menyampaikan pertanyaan untuk kemudian didiskusikan dengan para peserta kuliah tamu. Tak usai di situ, Bapak Bryan juga memberikan hadiah berupa test pen kepada mahasiswa yang berani menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Bapak Bryan tak jarang mengaitkan materi dengan kegiatan mahasiswa Teknik Elektro di masa perkuliahan. Interaksi ini berhasil mencairkan suasana serta membantu peserta memahami materi yang disampaikan secara lebih mendalam.

Narasumber membagikan hadiah test pen kepada mahasiswa peserta kuliah tamu otomasi industri

Melalui penyampaian materi, peserta dapat menyimpulkan bahwa peranan teknisi elektro sangat krusial dalam menjaga keandalan sistem produksi di industri FMCG. Proses produksi yang berlangsung tanpa henti menuntut perancangan sistem kelistrikan yang andal, cepat dan tepat. Gangguan kecil seperti kegagalan sensor atau sistem kontrol dapat berdampak besar terhadap keseluruhan lini produksi dan berujung pada kerugian signifikan bagi perusahaan. Selain itu, tanpa pemahaman yang baik atas suatu produk, pekerjaan dapat menjadi sia-sia karena spesifikasi yang tidak sesuai. Pengoperasian mesin yang baik adalah ketika efisiensi tinggi dan waste minimal.

Setelah mendapatkan materi ini, para mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya peran teknisi di balik industri FMCG. Seperti tutur Rein Francis, “kegiatan ini diharapkan memberikan wawasan praktis mengenai teknologi otomasi industri serta siap menghadapi tantangan di dunia kerja nyata”. Kuliah tamu siang hari itu ditutup dengan penyelesaian sebuah study case bersama-sama. Kini, kami sadar bahwa Teknik Elektro merupakan kebutuhan yang relevan untuk tantangan industri masa kini. Teknik Elektro, terutama Teknik Elektro Ubaya tidak hanya hadir sebagai ilmu, namun solusi nyata dalam berbagai sektor industri.

Sumber Foto: KSM Teknik Elektro

%d bloggers like this: