Anyone Can Be Anything. Pernahkah kalian menonton film Zootopia? Dengan tagarnya yang khas itu, film tersebut mengajarkan bahwa siapa pun bisa menjadi apa pun selama berani bermimpi dan mencoba. Namun, seiring bertambahnya usia, kita sering kali melupakan mimpi-mimpi kecil karena terlalu sibuk mengikuti arus kehidupan. Bahkan, kita tidak lagi percaya bahwa kita bisa menjadi apa pun. Padahal, kuncinya adalah satu: tidak takut mencoba hal baru. Keberanian untuk mencoba bisa dimulai dari langkah sederhana seperti mengikuti perlombaan. Berangkat dari semangat tersebut, Teknik Elektro Universitas Surabaya menghadirkan berbagai ajang sebagai wadah bagi siswa-siswi SMA untuk mengembangkan kemampuan, dan berani mengambil langkah pertama menuju impian mereka.
Salah satu ajang yang diselenggarakan Teknik Elektro adalah Voice of Electrical Innovation (VOLT-IN), sebuah kompetisi inovasi teknologi tingkat nasional bagi siswa SMA/SMK/sederajat. Mengusung tema Empowering Sustainable Energy, IoT, and Healthcare Technology, peserta ditantang merancang solusi berbasis elektro pada tiga subtema, yaitu Renewable Energy, Intelligent Robotics, dan Biomedical Engineering.

Sejak pendaftaran dibuka pada Senin (18/05/2026), VOLT-IN 2026 mendapat antusiasme yang tinggi dari para pelajar di berbagai daerah. Banyak ide inovatif berhasil terkumpul. Meski begitu, tentu hanya karya-karya terbaik yang berhak melaju ke babak final. Bagi tim yang belum lolos, proses yang telah dilalui tetap menjadi pengalaman berharga untuk mengembangkan kemampuan dan menyempurnakan gagasan di kesempatan berikutnya. Sementara itu, tujuh tim finalis yang berhasil lolos ke tahap akhir adalah ELECTRICITEAM, error 404 kekalahan not found, Alter Ego, The One, NAS, Albayan Asbir, LKSHIRO.
Berbeda dengan tahap sebelumnya yang berfokus pada penyusunan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), para finalis kini dihadapkan pada tantangan baru yaitu mempresentasikan hasil karya mereka di hadapan dewan juri. Pada tahap inilah kemampuan komunikasi menjadi penentu. Peserta tidak hanya dituntut memiliki ide yang inovatif, tetapi juga mampu menjelaskan latar belakang, proses pengembangan, hingga keunggulan solusi yang ditawarkan secara runtut, jelas, dan meyakinkan. Melalui sesi presentasi ini, para peserta belajar bahwa sebuah inovasi tidak cukup hanya dirancang dengan baik, tetapi juga harus mampu dikomunikasikan agar manfaat dan potensinya dapat dipahami oleh orang lain.
Final VOLT-IN 2026: Anyone Can Be Anything
Puncak rangkaian VOLT-IN 2026 akhirnya tiba. Setelah pembagian urutan presentasi pada technical meeting Selasa (23/06/2026), para finalis kembali bertemu pada Senin (29/06/2026) untuk mempresentasikan inovasi yang telah mereka kembangkan di hadapan dewan juri. Kegiatan hari itu diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta jingle TEUS, lagu kebanggaan mahasiswa Teknik Elektro. Sebagai “cherry on top”, Ketua Pelaksana, Samuel Adityaputra Wardoyo, menyampaikan sambutan sekaligus membuka rangkaian presentasi final. Setelah pembacaan kembali urutan presentasi, sesi penilaian resmi pun dimulai.
Setiap finalis memperoleh waktu 10 menit untuk mempresentasikan karya mereka, dilanjutkan dengan 10 menit sesi tanya jawab bersama dewan juri. Penilaian dilakukan oleh dua dosen Teknik Elektro Universitas Surabaya, yaitu Ir. Veronica Indrawati, M.T. dan Agung Prayitno, S.T., M.Eng., Ph.D., yang menilai kualitas inovasi sekaligus kemampuan peserta dalam mempertahankan gagasannya.

Berbagai gagasan kreatif dengan latar belakang permasalahan yang berbeda-beda mewarnai sesi presentasi. Mulai dari mitigasi bencana, kesehatan, hingga teknologi berkelanjutan, setiap tim menghadirkan solusi dengan pendekatan yang unik. Tim LKSHIRO sebagai finalis pertama membuka sesi presentasi dengan inovasi di bidang mitigasi bencana dan teknologi komunikasi darurat. Dengan penyampaian yang runtut dan penguasaan materi yang baik, tim ini berhasil menarik perhatian dewan juri sekaligus menunjukkan potensi penerapan teknologi dalam mendukung penanganan situasi darurat.
Berbeda dengan presentasi sebelumnya, finalis berikutnya mengangkat tema energi terbarukan melalui pengembangan teknologi panas bumi. Presentasi tersebut menyoroti pentingnya inovasi teknologi dalam mendukung pemanfaatan energi bersih dan berkelanjutan di Indonesia. Meski berasal dari bidang yang berbeda, setiap tim sama-sama menunjukkan kemampuan analisis, kreativitas, serta komunikasi ilmiah yang baik selama sesi presentasi berlangsung.

Selain tema mitigasi bencana dan energi terbarukan, hadir pula gagasan mengenai sistem keamanan pintar berbasis Internet of Things (IoT) serta teknologi kesehatan berbasis biomaterial maritim yang cukup menyita perhatian. Tak hanya unggul dari sisi inovasi, kemampuan presentasi para finalis pun patut diapresiasi. Ada tim yang membawakan presentasinya layaknya reporter profesional di televisi, bahkan menyampaikan materi secara bilingual dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan percaya diri. Perpaduan ide-ide inovatif dan kemampuan presentasi yang mumpuni membuat persaingan di babak final berlangsung semakin sengit sekaligus menarik untuk disaksikan.

Setelah ketujuh finalis menyelesaikan sesi presentasi dan tanya jawab, acara memasuki waktu ISHOMA. Sembari para peserta dan pendamping beristirahat, dewan juri memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan penilaian akhir serta menentukan para pemenang VOLT-IN 2026. Suasana pun dipenuhi rasa penasaran karena seluruh finalis menantikan hasil dari perjuangan dan kerja keras yang telah mereka curahkan.
Penantian para finalis akhirnya terjawab saat dewan juri mengumumkan hasil penilaian. Tim NAS berhasil keluar sebagai Juara I, diikuti Tim ELECTRICITEAM sebagai Juara II, dan Tim Error 404 Kekalahan Not Found sebagai Juara III. Pengumuman tersebut sekaligus menutup persaingan sengit yang telah tersaji sepanjang sesi presentasi.
Sebelum rangkaian acara berakhir, salah satu dewan juri, Agung Prayitno, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada seluruh finalis atas kreativitas dan semangat yang ditunjukkan selama kompetisi. Beliau juga berpesan, “Untuk yang belum juara jangan berputus asa karena masih banyak kesempatan lain untuk mencoba.” Pesan tersebut menjadi penutup yang mengingatkan bahwa setiap gagasan memiliki potensi untuk terus dikembangkan, terlepas dari hasil akhir yang diperoleh.

Rangkaian VOLT-IN 2026 kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh finalis, guru pembimbing, dewan juri, dan panitia. Sejalan dengan semangat “Anyone Can Be Anything”, kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang untuk berkompetisi, tetapi juga langkah awal bagi para pelajar untuk berani bermimpi, berinovasi, dan mengubah ide menjadi karya nyata.