Dari Ubaya sampai Korea. Sebuah perjalanan yang terasa tak mungkin. Ungkapan ini adalah manifestasi dari satu kata ajaib: mimpi. “Apa mimpimu?” Pertanyaan ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Bagi banyak anak muda, pertanyaan tersebut bukan sekadar basa-basi, melainkan sesuatu yang kerap dipikirkan saat membayangkan masa depan. Mulai dari cita-cita karier, keinginan melanjutkan studi, hingga impian untuk meraih kesempatan di luar negeri. Menariknya, mimpi-mimpi tersebut bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Dengan persiapan yang matang, kerja keras, serta keberanian mengambil peluang, impian dapat berubah menjadi kenyataan. Hal inilah yang dibuktikan oleh Kak Irzal Zaini, S.T.
Pada Selasa (31/03/2026), mahasiswa Teknik Elektro berkesempatan untuk bertemu dengan Kak Irzal Zaini, S.T. dalam kuliah tamu yang berjudul “How to Build a Career in Korea: Research, Internships, and Engineering Opportunities”. Lantas, siapakah beliau? Ia merupakan lulusan teknik Elektro Universitas Surabaya yang saat ini sedang menempuh program Master di Kookmin University, Korea Selatan. Dalam studinya, ia mendalami bidang elektronika dan wireless engineering, khususnya teknologi komunikasi nirkabel. Saat ini, beliau dalam berbagai proyek riset inovatif, salah satunya di bidang Optical Wireless Communication (OWC), yaitu teknologi komunikasi nirkabel menggunakan media cahaya. Ia juga bekerja sama dengan ETRI (Electronics Telecommunication Research Institute), lembaga riset nasional terkemuka di Korea Selatan. Proyek yang dikerjakannya mencakup pengembangan komunikasi drone-to-drone menggunakan laser hingga sistem komunikasi satelit.

Kalau Kak Irzal bisa kuliah di luar negeri, berarti kita bisa dong? Tentu saja bisa, apalagi kalau masuk di jurusan Teknik Elektro UBAYA! “Jadi karena salah satu dosen Teknik berkolaborasi dengan Kookmin University, akhirnya saya bisa pergi ke Universitas tersebut,” ungkapnya. Tak hanya itu, Kak Irzal mengungkap bahwa berkuliah di Kookmin merupakan pilihan yang tepat karena mata kuliah yang ada sesuai dengan pilihan SKS di UBAYA.
Pencapaiannya hingga saat ini tentu tak didapatkan begitu saja. Banyak tetes peluh, keringat dan tangis yang telah dilalui olehnya. Bahkan, kak Irzal sempat mengalami beberapa culture shock selama menjalani pendidikan Masternya. Culture shock yang pertama adalah budaya kerja “Pali-pali”. Tunggu dulu.. Apa itu pali-pali? Dalam bahasa Korea, istilah ini berarti “cepat-cepat” atau “segera”. Ini adalah ungkapan populer yang mencerminkan budaya kerja dan gaya hidup masyarakat Korea Selatan yang serba cepat, efisien, dan tidak suka menunggu. Budaya ini mendorong produktivitas tinggi, mulai dari pelayanan makanan, pembangunan infrastruktur, hingga kecepatan internet. Berhubung dengan itu, disiplin sangat tinggi dan keputusan harus diambil dengan cepat.

Kak Irzal menambahkan pula, “sistem kerja di Korea menggunakan metode Agile, yaitu pekerjaan dilakukan secara bertahap dan fleksibel sesuai kebutuhan proyek. Setiap dua minggu tim melakukan evaluasi hasil kerja lalu menyusun rencana dan target berikutnya.”
Masalah kedua yang dilalui adalah bahasa. Ya, bahasa. Meskipun kuliahnya dalam bahasa Inggris, beliau menekankan pentingnya belajar bahasa Korea. Apalagi karena percakapan sehari-hari tetap menggunakan bahasa Korea. Ia sendiri mulai belajar melalui aplikasi seperti Duolingo sebelum berangkat menuju negeri tujuannya. Ini menjadi bukti bahwa kesiapan menuju masa depan tidak hanya dibangun di ruang kelas, tetapi juga melalui inisiatif pribadi.

Lebih jauh lagi, Kak Irzal menyoroti besarnya peluang lulusan Teknik Elektro di Korea Selatan. Negara tersebut dikenal unggul di bidang semikonduktor, elektronika, telekomunikasi, otomasi industri, hingga kecerdasan buatan. Perusahaan besar seperti Samsung, LG, Hyundai, dan SK Hynix terus membutuhkan talenta teknik yang kompeten. Keahlian seperti FPGA system design, embedded system, Internet of Things (IoT), wireless communication, serta AI hardware menjadi bidang yang semakin dicari.

Di sinilah Teknik Elektro UBAYA menunjukkan perannya. Mahasiswa tidak hanya belajar teori kelistrikan, rangkaian, dan elektronika, tetapi juga dibekali kemampuan problem solving, logika sistem, pemrograman, serta pengalaman proyek yang relevan dengan kebutuhan industri modern. Dengan bekal tersebut, lulusan Teknik Elektro memiliki peluang luas untuk berkarir di perusahaan nasional maupun internasional, terjun ke dunia riset, bahkan melanjutkan studi ke luar negeri.

Kisah dari Ubaya Sampai Korea menjadi pengingat bahwa mimpi bukan sekadar angan-angan. Dengan ilmu, kerja keras, dan keberanian mengambil kesempatan, mahasiswa Teknik Elektro UBAYA dapat melangkah jauh melampaui batas kampus, kota, bahkan negara. Karena pada akhirnya, masa depan tidak datang sendiri. Masa depan dibangun, dirancang, dan diwujudkan. Mari, membangun masa depan bersama Teknik Elektro Ubaya.