Bijaksana dalam memanfaatkan teknologi menjadi “PR” besar untuk kita para gen z. Siapa sih yang tidak mengenal ChatGPT, Gemini atau Perplexity —platform mengobrol dengan AI super canggih? Kalau dahulu kita mengenal istilah Machine Learning, kini kita mengenal baik istilah Artificial Intelligence (AI). Bayangkan, apabila AI adalah sebuah bolpen, maka Machine Learning adalah isi bolpennya. Keduanya tak terpisahkan. Ternyata oh ternyata, peran keduanya kini sangat besar dalam kehidupan manusia lho! Bahkan, banyak orang menganggap bahwa mereka tidak mungkin bisa hidup tanpa AI.

Faktanya, AI tidak hanya berperan dalam platform seperti ChatGPT. Rekomendasi konten, navigasi Google Maps, hingga prediksi penyakit dari data SmartWatch seluruhnya dibantu oleh AI. Akhirnya, pekerjaan berat kian meringan dan manusia semakin dimudahkan. Di balik kemudahan tersebut, manusia menjadi semakin malas berpikir. Jadi… apakah teknologi menurunkan kualitas otak kita atau justru kita yang belum bisa menggunakannya dengan benar?

Salah satu canon event saat ini adalah kebiasaan manusia untuk membuka media sosial terus-menerus. Media sosial a.k.a medsos sudah menjadi kebutuhan dasar semua orang, mulai dari balita hingga orang dewasa. Yup, banyak sekali kejadian ketika anak kecil menangis karena tidak diberikan handphone. Mulanya, sosial media menjadi kebutuhan primer karena fungsinya yang membuat manusia dapat berkomunikasi dengan mudah.
Seiring berjalannya waktu, kemudahan ini justru menjadi senjata makan tuan: manusia kecanduan medsos. Hal ini disebabkan adanya AI mempelajari apa yang kita tonton: konten apa yang kita ulang, panjang durasi video, klik, like dan repost. Dari data ini, algoritma Machine Learning membangun pola preferensi dan memprediksi konten yang membuat kita bertahan lebih lama di aplikasi. Alhasil, aplikasi akan memberikan tontonan serupa untuk masuk dalam feeds kita.
Dari kejadian tersebut, manusia mendapatkan dopamin secara instan, sebuah zat dalam otak yang membuat manusia merasa bahagia. Akhirnya, manusia terjebak dalam siklus pencarian rangsangan instan. Setiap notifikasi, setiap video baru, menjadi pemicu kecil yang mengaktifkan sistem reward (dopamine) di otak. Tanpa disadari, kebiasaan membuka media sosial bukan lagi soal kebutuhan komunikasi, melainkan dorongan kompulsif untuk mengejar sensasi berikutnya. Kejadian berulang ini memicu brain rot, menurunnya kemampuan berpikir karena terlalu sering melihat konten-konten receh di internet (Alodokter, 2025).

Seiring dengan berkembangnya platform media sosial, berbagai inovasi lain berbasis AI berkembang secara signifikan. Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT telah mengubah pola pikir serta cara masyarakat berinteraksi dengan teknologi. Integrasi AI ini memudahkan manusia tak hanya di bidang pendidikan, melainkan bidang kreatif hingga industri sekalipun. Lebih jauh, Language Model dapat menyelesaikan persoalan susah seperti coding hanya dalam sekejap. Tugas yang seharusnya memakan waktu berhari-hari dapat selesai dalam lima menit saja. Sayangnya, kemampuan ini direspon dengan cara yang salah. Masyarakat selalu mengandalkan AI meski dalam hal kecil sekalipun, yang kemudian menurunkan kemampuan berpikir manusia.

Apakah kemajuan ini selalu berdampak buruk? Tentu saja tidak apabila kita dapat memanfaatkannya secara bijak. Contoh kecilnya, membiasakan diri membuka media sosial untuk mengulik ide-ide baru, atau konten pendidikan. Jangan terlalu lama tenggelam dalam sosial media. Ketika menggunakan LLM, kita dapat menggunakan prompt khusus untuk mengajak AI untuk berdiskusi, bukan langsung memberikan jawaban akhirnya. Bahkan, AI dapat menjadi tutor personal untuk manusia. Ketika kita ingin mempelajari hal baru yang tampak susah, AI dapat menjadi teman yang sempurna. Kecerdasan buatan ini dapat men-generate materi menjadi kuis, flashcards, video penjelasan, bahkan podcast. Apabila tujuan penggunaan kecanggihan ini baik, hasil akhirnya tentu akan baik. Gunakan AI sebagai alat pembantu berpikir, bukan pengganti berpikir.

Meski sangat canggih, perlu diingat bahwa kecerdasan buatan tetap bisa melakukan kesalahan. Tidak semua yang kita terima dari chat dengan Language Model adalah benar. Sebagaimana baiknya, ketelitian harus tetap dilatih. Apabila terdapat informasi yang meragukan, pengguna dapat melakukan riset sendiri untuk memastikan kebenarannya.
Di luar beberapa dampak buruknya, menyalahkan teknologi maupun AI sepenuhnya bukan langkah yang tepat. Teknologi pada dasarnya hanyalah alat penyalur komunikasi maupun ilmu. Teknologi pada dasarnya bersifat netral. Yang menjadi penentu hasil akhirnya adalah masing-masing penggunanya. Jika dioptimalkan untuk pembelajaran, teknologi ini justru dapat menjadi penguat intelektual.
Lebih jauh lagi, kecerdasan buatan diciptakan oleh manusia dan untuk manusia. Manusialah yang menciptakan sistem elektronik, sensor maupun komputasinya. Di sinilah para insinyur, terutama insinyur Teknik Elektro bekerja. Karena itu, tidak sepenuhnya tepat apabila kita menyalahkan AI atas dampak yang muncul. Yang perlu dievaluasi bukan hanya teknologinya, tetapi juga cara kita memanfaatkannya serta tujuan yang melandasi perancangannya.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi bukanlah ancaman, melainkan tantangan untuk bersikap dewasa dalam menggunakannya. Masyarakat harus bijaksana dalam memanfaatkan teknologi, terutama AI. Teknologi tidak dibangun untuk menghancurkan manusia, melainkan untuk membantu manusia. Bagaimana memanfaatkan dan mengembangkan teknologi, itulah yang menjadi tugas kita. Salah satu cara mengembangkan kecerdasan buatan adalah dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya, terutama dalam menerapkan integrasi software, hardware, dan machine learning. Untuk kepentingan tersebut, Teknik Elektro Ubaya dapat menjadi pilihan yang baik. Maka, bergabunglah bersama kami untuk memajukan teknologi. Dari kita, untuk kita.
Sumber ilustrasi: Nano Banana AI