Pameran Petra dan Nostalgia teusian 18/08/2026

Pameran Petra dan Nostalgia

Sebuah lagu Tulus tentang kenangan masa tujuh belas tahun selalu berhasil membuat kaum-kaum ‘senior’ mengingat kembali masa-masa SMA. Masa saat kita tidak diusik oleh berbagai pikiran tentang hidup, maupun masa depan. Hal yang sama juga dirasakan oleh para mahasiswa, khususnya mahasiswa Teknik Elektro. Lewat Pameran Petra dan Nostalgia, kesempatan emas kami untuk mengunjungi SMA pun tiba. Pada hari Selasa (04/08/2026) hingga Rabu (12/08/2026) Universitas Surabaya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi salah satu SMA ternama di Surabaya yaitu SMA Kristen Petra.

Pameran Petra dan Nostalgia: tiga perwakilan Teknik Elektro berfoto di stan dengan alat stimulasi otot dan miniatur kincir

Tak sekadar mengunjungi, UBAYA mempersembahkan pameran yang menampilkan seluruh fakultas serta jurusan yang ada di universitasnya. Kegiatan ini tentunya dilakukan untuk mempromosikan UBAYA pada murid-murid SMA Petra. Uniknya, UBAYA ternyata tidak datang sendirian saja melainkan bersama satu universitas swasta lainnya yaitu ISTTS. Kenapa acaranya sampai satu minggu ya.. Apa anak Petra tidak bosan ya setiap hari bertemu pameran yang sama..? Tenang saja, kawan. Kami tidak hanya mendatangi satu sekolah saja, melainkan banyak sekolah. Mulai dari SMA Kristen Petra 1 hingga 5 dan SMA Petra Acitya.

Setiap harinya, mahasiswa yang bertugas pun berpindah mengikuti jadwal sekolah masing-masing. Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 07.00, kami sudah mulai melakukan load in. Meja, taplak, peralatan pameran, hingga berbagai karya Teknik Elektro harus dibawa dan disiapkan sebelum pukul 08.00. Setelah stan siap, para siswa kelas 10 hingga 12 datang secara bergantian ke aula atau gedung serbaguna untuk melihat pameran. Karena kunjungan dilakukan secara bergiliran, mahasiswa juga memiliki waktu senggang di antara sesi tersebut. Waktu kosong inilah yang kemudian menjadi kesempatan untuk berbincang dengan teman, berkeliling, melihat karya jurusan lain, atau sekadar menikmati suasana sekolah lagi. Selain pameran, mahasiswa Ubaya juga mendapat kesempatan untuk melakukan presentasi langsung di dalam kelas.

Kolase dua foto: siswa SMA mengerumuni stan Teknik Elektro dan siswa duduk melihat stan kampus lain di aula sekolah

Pameran Petra dan Nostalgia di Stan Teknik Elektro

Di stan Teknik Elektro sendiri, berbagai karya dan alat praktik turut diperkenalkan kepada para siswa. Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah alat stimulasi otot yang dapat digunakan dalam terapi, termasuk bagi pasien yang mengalami stroke. Kehadiran alat tersebut sekaligus memberikan gambaran mengenai peminatan Biomedical Engineering, salah satu peminatan yang dapat dipilih mahasiswa Teknik Elektro.

Banyak siswa datang untuk melihat alat ini. Entah karena benar-benar ingin mencoba, penasaran, atau mendapat tantangan. Mbak Theresia Septiriana, laboran Teknik Elektro yang turut menjaga stan, selalu memberikan arahan sebelum siswa mencoba alat tersebut. Suasana pun dibuat santai. “Yuk, yuk pegangan tangan melingkar semua, biar terasa semuanya,” ajaknya. Karena alat yang digunakan hanya dua buah dan terhubung pada satu panel, para siswa diminta berdiri melingkar agar stimulasi dapat dirasakan bersama. Reaksi mereka pun beragam. Ada yang tertawa, kaget, hingga langsung meminta teman berikutnya untuk mencoba.

Pameran Petra dan Nostalgia: siswa dan mahasiswa berpegangan tangan melingkar untuk merasakan stimulasi dari alat

Selain alat tersebut, Teknik Elektro membawa beberapa hasil 3D printing, salah satunya miniatur kincir. Robot catur juga ikut dipamerkan. Salah satu karya yang cukup menarik perhatian adalah Simon Says, permainan interaktif buatan kakak tingkat Teknik Elektro. Pemain harus menekan tombol sesuai urutan lampu yang menyala. Terdiri dari 25 level, semakin tinggi levelnya, semakin panjang pula urutan yang harus diingat. Siswa yang berhasil mencapai level 10 berhak mendapatkan gantungan kunci hasil 3D printing Teknik Elektro. Felicia Bella bahkan sempat menggoda, “Kalau bisa sampai level 30, kamu dapat semua barang yang ada di meja ini.” Psst… ingat, levelnya cuma sampai 25!

Kolase dua foto: siswa berbatik mencoba perangkat genggam berwarna ungu di stan Teknik Elektro

Tidak hanya siswa yang menikmati keseruan pameran. Mahasiswa yang sedang memiliki waktu senggang juga ikut berkeliling dan melihat karya dari berbagai jurusan. Berburu souvenir pun menjadi kegiatan sampingan yang tidak kalah menarik. Ada fakultas yang membagikan makanan, stiker, kipas, hingga topi. Salah satu mahasiswa Teknik Elektro bahkan sempat mencoba scooter yang dibawa oleh ISTTS. Ada pula cermin bulat yang biasa ditemukan di persimpangan jalan dan digunakan sebagai spot foto. Hal-hal kecil seperti ini membuat waktu menunggu pergantian sesi terasa jauh dari kata membosankan.

Pameran Petra dan Nostalgia: siswa berseragam pramuka mencoba perangkat genggam di stan Teknik Elektro

Kembali ke Sekolah Asal

Keseruan pameran kali ini terasa sedikit berbeda bagi beberapa mahasiswa Teknik Elektro karena mereka kembali menginjak sekolah yang pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Felicia Bella sebenarnya sangat ingin mendapatkan jadwal di SMA Petra 1 karena sekolah tersebut merupakan almamaternya. Sayangnya, ia keduluan mengambil slot tersebut sehingga tidak sempat kembali ke sekolah asalnya sebagai petugas pameran. Meski begitu, Felicia tetap menikmati kegiatan ini. Leonard Imanuel Suteja juga merasakan hal serupa. Keduanya mengaku senang dapat mengikuti kegiatan promosi sekaligus merasakan kembali suasana sekolah dari sudut pandang yang berbeda.

Bagi Marvell Nicholla, nostalgia terasa lebih kuat ketika mendapat kesempatan bertugas di SMA Petra 5, sekolah asalnya. Ia tidak hanya kembali melihat lingkungan sekolah, tetapi juga bertemu beberapa siswa yang masih mengingat dirinya. Ada yang dahulu mengenalnya ketika masih SMP, saat Marvell datang ke sekolahnya untuk mempromosikan SMA Petra 5. Kini, mereka bertemu kembali dalam situasi yang berbeda. Marvell datang di SMA untuk mempromosikan UBAYA. Ada pula siswa yang masih mengingatnya sebagai kakak pembina Paskibraka. Pertemuan-pertemuan kecil tersebut membuat kegiatan yang awalnya hanya berupa tugas promosi berubah menjadi momen nostalgia yang cukup berkesan.

Mungkin inilah bagian paling menyenangkan dari kegiatan kali ini. Di sela kesibukan kuliah, mahasiswa dapat bersenang-senang sambil melakukan sesuatu yang bermanfaat. Kami datang untuk memperkenalkan kehidupan perkuliahan kepada siswa SMA, tetapi justru mendapat kesempatan untuk kembali melihat masa lalu dari sudut yang berbeda. Dulu kami datang sebagai siswa yang mencari informasi tentang universitas, kini kami kembali sebagai mahasiswa yang membawa cerita dan pengalaman.

Tanpa terasa, waktu pun berjalan begitu cepat. Yang tahun lalu masih semester satu kini sudah semester tiga, yang dahulu semester tiga mulai memasuki semester lima, sementara kakak tingkat yang dulu sibuk mengurus berbagai kegiatan promosi kini mulai mempersiapkan tugas akhir. Mungkin justru dari kegiatan seperti inilah kami menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang kelas, praktikum, dan tugas. Ada banyak kesempatan untuk mencoba hal baru, berkarya, bertemu orang-orang baru, hingga sesekali kembali ke tempat yang pernah menjadi bagian dari cerita kita.

Pameran Petra dan Nostalgia pun akhirnya menjadi salah satu cerita kecil dalam perjalanan kami sebagai Teusian. Datang sejak pagi, berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain, bertemu adik-adik, bercanda, bernostalgia, lalu pulang membawa cerita baru. Sederhana, tetapi justru pengalaman seperti inilah yang membuat masa kuliah terasa lebih berwarna. Jadi, kalau sekarang kalian masih duduk di bangku SMA dan sedang mencari tahu seperti apa kehidupan setelahnya, mungkin ini saatnya mengenal lebih dekat dunia yang menunggu di baliknya. Sampai berjumpa di Prodi Elektro Ubaya!

%d bloggers like this: