Lulus Bukan Sekadar Lolos teusian 04/06/2026

Lulus Bukan Sekadar Lolos

Lulus bukan sekadar lolos, tiga mahasiswa Teknik Elektro berhasil menyelesaikan sidang Tugas Akhirnya pada Kamis (07/05/2026). Setelah melalui segala proses perkuliahan—yang konon disebut “masa muda terbaik”, ketiganya kini tinggal menyelesaikan revisi akhir sebelum resmi menyandang gelar Sarjana Teknik. Mereka adalah Johana Ongko dari peminatan Biomedical Engineering, Alim Nova dan Agung dari peminatan Intelligent Robotics.

Lulus bukan sekadar lolos: tiga mahasiswa Teknik Elektro UBAYA membawa buket bunga di depan papan Fakultas Teknik

Sidang mungkin terlihat sederhana dari luar. Presentasi beberapa menit, sesi tanya jawab, lalu dinyatakan lulus. Padahal…, di balik satu kata “lulus”, ada proses panjang yang harus dijalani mahasiswa selama bertahun-tahun. Hal itu juga dirasakan ketiga mahasiswa Program Studi Teknik Elektro UBAYA. Ketiganya hadir dengan tugas akhir yang inovatif, mulai dari alat rehabilitasi pasien stroke berbasis AI hingga robot catur otomatis.

Johana Ongko, mahasiswi peminatan Biomedical Engineering, mengembangkan alat Functional Electrical Stimulation (FES) berbasis Artificial Intelligence untuk membantu rehabilitasi pasien stroke. Alat tersebut digunakan untuk menstimulasi gerakan kaki pasien agar otot tidak mengalami atrofi atau pelemahan. Berbeda dengan alat terapi konvensional yang masih menggunakan kontrol manual, sistem yang ia buat memanfaatkan reinforcement learning agar intensitas stimulasi dapat diatur secara otomatis. Pengembangan ini sejalan dengan harapannya menjadi bermanfaat bagi banyak orang. “Harapan masuk Teknik Elektro supaya cepat dapat uang, tapi juga bisa bikin inovasi alat kesehatan yang bermanfaat,” ujarnya. Sementara itu, Agung mengembangkan robot catur berbasis AI menggunakan robot UR3 yang dapat bermain otomatis melawan manusia. Sebagai Ketua UKM Catur UBAYA sekaligus atlet catur, ia sengaja menggabungkan hobinya dengan tugas akhir. “Saya pilih topik ini karena sesuai hobi, jadi ngerjain TA bisa happy,” katanya.

Mahasiswi Biomedical Engineering berpose di samping slide presentasi sidang tugas akhir yang baru ia selesaikan

Meski telah berhasil menyelesaikan sidang, ketiganya sepakat bahwa kelulusan bukan hanya soal lolos sidang. Ada banyak tahapan yang harus diselesaikan sebelum mahasiswa benar-benar bisa menyandang gelar Sarjana Teknik. Agung menjelaskan bahwa mahasiswa Teknik Elektro harus menyelesaikan sekitar 144 SKS, menjalani kerja praktik atau magang, menyelesaikan tugas akhir, serta lulus ujian komprehensif. “Ujian kompre itu menguji materi dari semester satu sampai semester enam. Nilainya nanti juga masuk sekitar sepuluh persen ke nilai TA,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa mahasiswa belum bisa dinyatakan lulus meskipun tugas akhirnya selesai apabila ujian komprehensif belum tuntas. Artinya, perjuangan mahasiswa elektro tidak berhenti hanya di ruang sidang.

Dalam prosesnya, masing-masing mahasiswa menghadapi tantangan yang berbeda. Johana mengaku sempat harus memulai ulang sebagian besar sistem ketika alat yang hampir selesai diminta dikembangkan dengan integrasi AI. “Waktu alat sudah 80 sampai 90 persen jadi, saya diminta ganti kontrol pakai AI. Jadi harus mengerjakan lagi cukup lama,” katanya. Alim Nova juga mengalami tekanan besar ketika memasuki semester lima dan enam karena banyaknya proyek yang harus diselesaikan bersamaan. “Pernah ada lima proyek mata kuliah harus selesai dalam satu minggu,” ujarnya. Sementara itu, Agung mengaku kesulitan membagi waktu antara kuliah, organisasi, dan kehidupan pribadi hingga nilai IP-nya sempat menurun pada semester tiga.

Alim Nova berdiri di samping miniatur mobil self-parking berbasis lidar dan slide sidang tugas akhirnya

Meski harus melalui proses yang panjang, ketiganya tetap percaya bahwa Teknik Elektro merupakan bidang yang sangat penting bagi kehidupan. Berbagai teknologi yang digunakan sehari-hari, mulai dari alat kesehatan, robotika, hingga sistem otomatisasi industri, semuanya memiliki hubungan erat dengan ilmu elektro. Alasan mereka memilih jurusan ini pun beragam. Sejalan dengan Johana, Alim Nova ingin ilmunya dapat bermanfaat di masa depan, sedangkan Agung tertarik karena menyukai tantangan, matematika, dan fisika. “Saya pilih Elektro karena menurut saya ini salah satu teknik yang paling menantang,” ujar Agung.

Di tengah tekanan akademik, mereka memiliki alasan tersendiri untuk tidak menyerah. Johana merasa nyaman dengan bidang yang ia tekuni dan ingin hasil karyanya dapat membantu orang lain. Alim Nova termotivasi oleh masa depan dan prospek karier, sedangkan Agung memilih tetap fokus pada tujuan yang telah ia susun sejak awal. “Saya bikin roadmap dulu dua sampai tiga bulan supaya jelas alurnya,” katanya. Mereka juga sepakat bahwa lingkungan pertemanan sangat memengaruhi perjalanan kuliah seseorang. Lingkungan yang suportif dapat membantu mahasiswa bertahan menghadapi tekanan akademik. “Cari yang disukai di elektro supaya menjalaninya tidak terpaksa,” kata Johana. Agung pun mengingatkan agar mahasiswa tidak membuang waktu secara berlebihan untuk nongkrong atau bermain game.

Lulus bukan sekadar lolos: Agung berpose acungan jempol bersama robot UR3 dan papan catur seusai sidang tugas akhir

Selain fokus pada akademik, Agung juga menyarankan mahasiswa mulai mempersiapkan kemampuan tambahan sejak dini, seperti sertifikasi dan kemampuan bahasa. Menurutnya, hal tersebut penting untuk persiapan dunia kerja maupun studi lanjut. Keberhasilan Johana, Alim Nova, dan Agung menjadi bukti bahwa tantangan di Teknik Elektro memang tidak mudah, tetapi tetap bisa dilalui dengan konsistensi, manajemen waktu, dan kemauan untuk terus belajar.

Lulus bukan sekadar lolos: foto bersama mahasiswa Teknik Elektro dan teman-temannya di depan papan Fakultas Teknik UBAYA

Sesuai dengan judul artikel ini, “Lulus Bukan Sekadar Lolos”, banyak proses yang harus dilalui apabila ingin memiliki gelar yang bermakna. Harapannya, pengalaman ketiga mahasiswa semester akhir ini dapat menjadi semangat dan motivasi bagi mahasiswa lainnya. Mungkin perjalanan perkuliahan sering terasa melelahkan. Namun seperti yang telah dibuktikan Johana, Alim Nova dan Agung, semua proses tersebut pada akhirnya akan terbayar. Bahkan, sidang bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal menuju langkah baru yang lebih besar. Melangkahlah dan mulai membangun mimpi bersama Teknik Elektro UBAYA.

%d bloggers like this: