Bagi mahasiswa Teknik Elektro, kreativitas bukan sekadar konsep. Ia tumbuh dari ide-ide yang kadang terdengar unik, tidak biasa, lalu berkembang menjadi prototipe nyata yang dapat disentuh dan diuji. Gagasan tersebut dapat diwujudkan menjadi sebuah prototipe yang berkualitas. Program Studi Teknik Elektro tidak hanya menyediakan wadah untuk mengembangkan ide-ide tersebut, tetapi juga menghadirkan fasilitas yang mendukung serta mendorong tumbuhnya semangat dan pola pikir kreatif mahasiswa.

Salah satu buktinya terlihat pada mata kuliah Gambar Teknik yang diikuti beberapa mahasiswa semester tiga. Sebagai bagian dari penilaian Ujian Akhir Semester, mereka diminta merancang dan mencetak prototipe tiga dimensi menggunakan printer 3D. “Sebenarnya mata kuliah ini adalah mata kuliah pilihan, jadi tidak wajib diambil semester tiga,” ungkap Ivana Dara, salah satu mahasiswa angkatan 2024. Meski demikian, mata kuliah ini tetap diminati banyak mahasiswa.
Pada dasarnya, mata kuliah ini mempelajari dasar-dasar komunikasi visual teknis, meliputi menggambar manual dan digital yang sesuai dengan standar industri. Bukan tanpa alasan, kehadiran mata kuliah ini menyesuaikan dengan kebutuhan industri saat ini. Keterampilan ini tidak hanya membahas mengenai teori rangkaian atau sistem, melainkan mengenai bagaimana merealisasikan sebuah ide menjadi nyata melalui perkiraan dan prototyping yang presisi. Dalam konteks Teknik Elektro yang bersinggungan dengan perangkat lunak dan perangkat keras, kemampuan merancang prototipe menjadi kebutuhan nyata.
Proses pembuatan prototipe tidak instan. Mahasiswa harus terlebih dahulu merancang desain menggunakan perangkat lunak Computer-Aided Design (CAD), seperti AutoCAD atau aplikasi sejenis lainnya. Tahap ini menuntut ketelitian mulai dari proyeksi, visualisasi, ukuran, hingga detail sambungan yang harus diperhitungkan secara akurat. Setelah memastikan bahwa gambaran digital sudah presisi, mahasiswa dapat mencetaknya dengan 3D-printer yang sudah disediakan oleh prodi Teknik Elektro. Laboratorium Teknik Elektro sendiri dilengkapi tiga printer 3D dengan spesifikasi berbeda. Untuk kebutuhan akademik, mahasiswa dapat menggunakannya tanpa biaya hingga dua kali pencetakan. Fasilitas ini menjadi pendukung penting dalam proses pembelajaran berbasis praktik.

Setelah melalui proses mencetak, mahasiswa dapat menyambungkan bagian-bagian prototipenya. Hasilnya beragam. Dari bentuk sederhana hingga rancangan yang kompleks, karya-karya mahasiswa mulai memenuhi ruang laboratorium. Beberapa di antaranya berupa lampu Halloween, kalender otomatis, tanda “Open” dan “Close” otomatis, permainan lempar bola, pelontar Meriam, hingga pembangkit listrik tenaga angin. Salah satu hasil yang menarik perhatian adalah karya dari David Nathanael Asa, mahasiswa angkatan 2024. Ia membuat dua prototipe pembangkit listrik tenaga angin berskala kecil. Meski mirip, keduanya punya spesifikasi yang berbeda. Satu prototipe memiliki bentuk baling-baling setengah lengkung atau silinder. Sedangkan, prototipe lainnya memiliki berbentuk heliks/spiral.

Secara prinsip, cara kerja keduanya sama, yaitu dengan menangkap hembusan angin. Hembusan angin kemudian akan membuat bilah berputar. Putaran poros kemudian menggerakkan generator ataupun dinamo. “Nah dengan dinamo nanti energi mekanik berubah menjadi listrik,” jelas David. Lebih lanjut, bentuk lengkung pada baling-baling heliks menghasilkan perbedaan tekanan udara saat terkena angin. Perbedaan ini kemudian menciptakan gaya angkat yang membuat turbin berputar lebih cepat. Apabila kedua prototipe dibandingkan, bentuk baling-baling heliks/spiral diperkirakan dapat menghasilkan energi lebih efisien. Tak hanya kreatif, David juga menunjukkan ketekunannya dengan berhasil menyelesaikan dua prototipe sekaligus dalam waktu yang relatif singkat. Pencapaiannya tentu patut diapresiasi. Hasil cetak 3D yang ia buat tampak rapi dan memiliki struktur yang kokoh. Bahkan, bagian bawah prototipe telah dilengkapi dengan tatakan besi.

Karya mahasiswa bahkan hadir dalam skala yang lebih besar. Salah satu karya terbesar adalah lampu taman milik Mheiva bersama teman kelompoknya yang setinggi orang dewasa. Uniknya, lampu taman tersebut bukan hanya hiasan, melainkan dapat benar-benar menyala. Proses pembuatannya sangat memakan waktu, apalagi karena ukurannya yang besar. Tim harus mencetak berkali-kali sebelum seluruh bagian dapat disatukan. Karena hanya berbahan dasar filamen, lampu tersebut dapat dibawa ke mana-mana dengan mudah. Kini, laboratorium Teknik Elektro semakin ramai dihiasi oleh karya-karya kreatif mahasiswa.

Dari Ujian Akhir Semester ini, mahasiswa tidak hanya diajarkan untuk menajamkan keahlian, melainkan kekreatifan. Beberapa karya, seperti prototipe turbin angin, juga memperlihatkan relevansi pembelajaran dengan isu energi terbarukan yang terus berkembang. Mengingat menurunnya jumlah energi fosil di dunia, suatu saat energi terbarukan akan menggantikan posisi energi fosil sebagai penunjang terbesar industri saat ini. Sejalan dengan itu, program studi Teknik Elektro kini menghadirkan peminatan Renewable Energy. Dalam peminatan ini, mahasiswa akan belajar lebih lanjut mengenai energi surya, angin, mikrohidro hingga manajemen dan audit energi.
Mahasiswa Teknik Elektro berhasil membuktikan bahwa kreativitas bukan sekadar konsep. Dari kreativitas, muncul hasil bermanfaat maupun menginspirasi. Mungkin saat ini rancangan mahasiswa hanya sekadar skala prototipe akademik. Namun, semangat dan ketekunan yang mereka miliki merupakan langkah awal menuju kontribusi yang nyata terhadap perkembangan zaman. Dengan kelengkapan fasilitas Teknik Elektro, mahasiswa juga dapat menyalurkan aspirasi dan inovasinya. Prodi memang hanya fasilitator, sedangkan mahasiswa-lah yang nantinya akan penggerak perubahan tersebut. Untuk tujuan tersebut, Teknik Elektro merupakan wadah yang tepat untuk menuangkan kreativitas mahasiswa. Jadilah mahasiswa yang inspiratif dan berdampak bersama prodi Elektro.