Bagi sebagian mahasiswa, tugas akhir identik dengan tekanan, revisi, dan begadang tanpa arah yang jelas. Namun bagi Agung, mahasiswa peminatan Intelligent Robotics Program Studi Teknik Elektro UBAYA, tugas akhir justru menjadi tempat ketika hobi bertemu robotika, menyatukan teknologi dan hobinya. Baru saja menyelesaikan sidang Tugas Akhir, Agung berhasil lulus dengan predikat cumlaude dan IPK di atas 3,5 hanya dalam waktu 3 tahun 9 bulan. Meski ia mengaku belum sepenuhnya puas karena target awalnya adalah lulus tujuh semester, pencapaiannya tetap menunjukkan konsistensi dan dedikasi yang tidak sederhana.

Sebelumnya, kita telah melihat lulusan pertama peminatan Biomedical Engineering dengan alat rehabilitasi stroke berbasis AI yang inovatif. Tak kalah menarik, peminatan Intelligent Robotics juga memiliki karya yang keren. Alih-alih memilih topik yang umum, Agung mengembangkan sebuah robot catur berbasis Artificial Intelligence yang mampu bermain melawan manusia secara otomatis. Ide tersebut muncul dari proyek lama milik Bapak Hendi Wicaksono, yang sebelumnya pernah membuat robot UR3 untuk bermain catur secara manual. Saat itu, robot hanya bergerak berdasarkan tombol kontrol dan belum memiliki kemampuan berpikir sendiri. Agung kemudian mengembangkan sistem tersebut agar robot bisa mengenali papan catur, menentukan langkah terbaik, lalu menggerakkan bidak secara otomatis tanpa bantuan manusia. Sebagai Ketua UKM Catur UBAYA sekaligus atlet catur, topik ini terasa sangat personal baginya. “Aku memang hobi main catur dan aku ngerasa kenapa enggak hobiku ini kubuat jadi tugas akhirku sehingga aku ngerjainnya happy,” ujarnya.

Robot yang dikembangkan Agung bekerja melalui kombinasi tiga sistem utama yang saling terhubung. Sistem pertama adalah image processing AI yang menggunakan kamera sebagai sensor penglihatan untuk membaca posisi bidak di papan catur. Teknologi ini berbasis YOLO (You Only Look Once) dan diprogram menggunakan Python. Sistem kedua adalah AI chess engine yang berfungsi menentukan langkah terbaik untuk melawan pemain manusia. Setelah AI menentukan strategi, sistem ketiga berupa robot UR3 akan bergerak memindahkan bidak sesuai instruksi. Seluruh proses tersebut dijalankan menggunakan laptop yang terhubung langsung dengan robot. Agung bahkan mendesain sendiri beberapa komponen tambahan menggunakan 3D printing, seperti ekstensi penjepit bidak dan tempat penyimpanan bidak yang telah dimakan.
Meski terdengar rumit, Agung menjelaskan bahwa ia sebenarnya tidak membuat AI dari nol. Ia menggunakan model YOLO yang sudah dikembangkan perusahaan besar, kemudian melatihnya kembali agar sesuai dengan kebutuhan sistem catur. “Kita ambil itu kayak seakan-akan mengadopsi bayi dari panti asuhan. Dia masih belum ngerti apa-apa, perlu diajari dulu,” katanya. Tantangan terbesar justru muncul saat proses integrasi. AI pengenal gambar, AI permainan catur, dan sistem robot harus mampu bekerja bersamaan tanpa kesalahan komunikasi. “Yang paling utama lebih ke integrasi karena di TA-ku itu ada dua AI, lalu ada juga sistem robotnya,” jelasnya. Untuk mengontrol robot UR3, Agung menggunakan bahasa pemrograman khusus bernama UR Script yang dijalankan melalui laptop.

Berbeda dengan kebanyakan orang, Agung telah menyiapkan Tugas Akhirnya jauh-jauh hari. Ia sudah mulai merancang TA-nya sejak semester lima dan menjadi mahasiswa pertama di angkatannya yang mengambil TA. Sebelum mulai membuat alat, Agung menghabiskan waktu sekitar dua hingga tiga bulan hanya untuk menyusun sistematis pengerjaan. “Aku cari tahu jalan menuju hasil tugas akhirku itu kurang lebih dua sampai tiga bulan. Itu semua kayak bangun roadmap,” ujarnya. Setelah alurnya jelas, ia memilih menyelesaikan sistem satu per satu agar pengerjaannya lebih terstruktur dan tidak berantakan di tengah jalan.
Di balik proses pengerjaan yang terlihat sistematis, Agung tetap harus menghadapi beberapa tekanan. Ia mengaku kesulitan membagi waktu antara kuliah, organisasi, dan kehidupan pribadi. Menurutnya, mahasiswa sebenarnya hanya bisa benar-benar fokus pada dua dari tiga hal tersebut. “Kuliah, organisasi, dan kehidupan pribadi. Dari tiga hal ini, kamu cuma bisa milih dua,” katanya. Pada semester tiga, ia sempat terlalu fokus pada organisasi hingga nilai IP-nya menurun. Selain itu, Agung juga memiliki kebiasaan bekerja dengan fokus penuh hingga lupa waktu. Saat mengerjakan proyek, ia bisa bekerja dari siang hingga pagi kembali tanpa membuka media sosial atau bermain gim sama sekali. Namun, ia menyadari pola tersebut bisa menyebabkan fatigue atau kelelahan otak jika dilakukan terus-menerus.

Kini, setelah berhasil menyelesaikan sidang dan meraih gelar cumlaude, Agung mulai memikirkan langkah berikutnya. Ia ingin terus mengembangkan kemampuan di bidang robotika dan kecerdasan buatan, sekaligus mempersiapkan diri untuk dunia kerja maupun studi lanjut di masa depan. Meski mengaku sedikit kecewa karena tidak mencapai target lulus tujuh semester, Agung tetap membuktikan bahwa proses panjang di Teknik Elektro mampu menghasilkan sesuatu yang nyata dan inovatif. Ia juga berpesan agar mahasiswa mulai merencanakan masa depan sejak awal kuliah dan tidak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting. “Siapkan roadmap atau jalur apa yang akan kamu lakukan selama prosesnya,” ujarnya. Perjalanan Agung ketika hobi bertemu robotika menunjukkan bahwa teknologi terbaik sering lahir dari kombinasi rasa penasaran, konsistensi, dan keberanian menjadikan hobi sebagai sesuatu yang lebih besar.
