Teknik Elektro Ubaya Sapu Bersih

Juara Lomba LabVIEW Programming di ITS

Enam mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Surabaya (UBAYA) berhasil meraih juara 1,2 dan 3 pada lomba tahunan IARC (Industrial Automation and Robotic Competition) yang digelar ITS Surabaya di Gedung Robotika ITS pada 25-27 Agustus 2014. Mereka juga berhasil mengungguli peserta lain yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi negeri ternama.

Gabriel Utomo dan Thomas Ardi Kusuma bahkan sukses menyabet dua gelar juara 1, yakni untuk kategori LabView Programming dan di kategori LabView Embedded Programming. Sementara Ivan Immanuel Trusulaw dan Fatkhor Rozi menduduki gelar juara 2 untuk kategori LabView Programming. Lantas Damaris Tanojo serta Cornelius Kristanto mencapai juara 3 di kategori LabView Programming.

Menurut Thomas, LabView itu sejatinya merupakan aplikasi pemrograman berbasis grafis atau blok. “Kalau biasanya dikenal pemrograman dengan menggunakan teks, maka LabView menggunakan pemrograman berbasis blok diagram,” ujar alumnus SMAK Santa Agnes Surabaya ini.

Peserta IARC sendiri tidak hanya terbatas dari wilayah Surabaya, tetapi juga berasal dari daerah di luar Surabaya, seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Trunojoyo-Madura, Universitas Brawijaya Malang, ITS dan PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya). “IARC sejatinya melombakan beberapa kategori. Salah satunya adalah LabView Programming dan LabView Embedded dengan sponsor perusahaan multinasional di bidang elektronika dari Amerika Serikat, yakni National Instrument.” terang Fatkhor Rozi.

Asisten dosen untuk mata kuliah Jaringan Komputer dan Keamanan Data ini menuturkan, pada lomba untuk kategori LabView, lomba dibagi menjadi tiga babak. Pada babak pertama alias penyisihan, peserta diharuskan menjawab dengan benar sejumlah soal. Sepuluh tim dengan nilai tertinggi dapat melanjutkan ke babak kedua. Di babak kedua, peserta diuji dengan menerapkan secara langsung pemrograman ke dalam komputer. Soal untuk babak kedua berisi aplikasi program komputer pada dunia nyata seperti pembagian waktu menjadi jam, menit, dan detik.

Nah, empat tim dengan nilai tertinggi berhak maju ke babak ketiga. Empat tim yang lolos akan bertanding untuk merebut juara 1, 2 dan 3. “Dibabak final ini tiap tim diwajibkan membuat alat dengan fungsi spesifik sesuai permintaan panitia lomba. Misalnya penggunaan sensor cahaya untuk mengontrol pintu lift,” imbuh Ivan Immanuel. Sedang kategori LabView Embedded, papar alumnus SMAK St. Louis ini, merupakan kelanjutan dari kategori LabView Programming. “Kali ini program diterapkan pada perangkat keras tertentu,” jelas dia. Penilaian pemenang lomba, paparnya, didasarkan pada kriteria  fitur program, kecepatan, kerapian menata blok diagram dan tampilan antar-muka pengguna (user interface).

Walaupun LabView merupakan aplikasi pemrograman yang baru, Elektro UBAYA ternyata mampu dengan baik menguasai aplikasi tersebut. Dengan bimbingan dosen Agung Prayitno, S.T., M.Eng. seluruh anggota tim giat belajar dasar logika pemrograman sebagai persiapan bertanding di tengah waktu yang sempit. “Bahkan saya dan Fatkhor cuma berkesempatan mempelajari teknik pemrograman LabView secara otodidak selama tiga hari saja, karena itu kami bersyukur bisa menang,” terang Ivan.

 (Sumber: Majalah e-talk edisi 11 Mei 2015)

Joomla Templates by Joomla51.com